Translate

Surat Cinta Buat Cheusa (Bagian 3)


Pilihan Untuk Pergi


"Malam adalah cerita", itu yang sering kamu katakan padaku dulu dan hanya kuanggap sebagai kalimat pengantar tidur. entah bagaimana aku bisa tiba-tiba mengingat kata-kata itu, mungkin karena malam ini aku cuma bengong sendirian dipinggir jalan. ini malam minggu, tapi bagiku ini hanya seperti malam-malam biasa kegiatanku hanya menjemput adikku pulang kerja. kamu masih ingat "ben" iya itu adiikku yang dulu selalu menunggu kedatanganmu hmm... ya, tepatnya bukan kedatanganmu sih tapi coklat yang selalu kau bawa untuknya. Sekarang dia bukan lagi bocah cengeng seperti dulu ben sekarang sudah lulus sekolah dan bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di kota bogor. Saat ada waktu luang aku selalu menyempatkan diri menjemputnya lumayan sekedar menghemat ongkos lagi pula tempat kerjaanya juga tidak begitu jauh dari rumah.

Tidak, aku bukan sedang bercerita tentang kisah seorang kakak yang baik tidak sedramatis itu. kamu tau, tempat aku biasa menunggu ben pulang bekerja adalah tempat pertama kali kita bertemu. Di tempat yang sama sekali tidak romantis inilah untuk pertama kalinya aku meliat tuhan menciptakan malaikat dan iblis di dalam satu tubuh yang disebut wanita. Tiga bulan lamanya kamu menminta aku menunggu hanya untuk menemuimu padahal kita tinggal di kota yang sama dan di tempat sama itu pula untuk pertama kalinya aku melihat airmana mengalir deras diwajah seorang wanita bernama Gita.

***

Entah dari mana harus kumulai karena setiap kalimat yang kutulis kali ini hanya menjadi rangkaian kata tanpa makna. Bukan karena Gita terlalu istimewa tapi hanya dengan mengigatnya saja rasanya seperti menghujamkan ribuan tombak dijantungku dadaku menjadi sangat sesak oleh rasa bersalah. Dia adalah saksi terakhir bahwa di setiap kisah dalam tulisan ini aku bukannlah orang baiknya, Aku pernah menjadi begitu egois hingga bisa menyakiti hati seorang wanita hanya untuk menghilangkan rasa bosan.

Gita memang tidak pernah berada di tempat yang istimewa dalam hidupku seperti kamu tapi dialah satu-satunya wanita yang pernah mengajariku arti pentingnya ketulusan. kenyataannya kita tidak pernah tau kemana takdir akan membawa kita, kita tidak pernah tau apakah sebuah kejadian atau seseorang yang kita temui di masa lalu akan mengubah hidup kita dimasa depan kita hanya bisa menebak karena kita tidak pernah tau...

....Setelah perpisahan kita aku benar-benar seperti si buta yang kehilangan tongkatnya, kebingungan dan tidak punya tujuan. beruntunglah aku tidak hidup dijaman batu hingga kemudahan komunikasi di era modern membuat aku bisa menemukan banyak hal untuk dilakuan meskipun rasanya selalu hambar seperti power ranger tanpa warna, membosankan.

Saat itu aku pernah membuat komunitas online yang tergabung dari orang-orang yang saling berkenalan via jejaring sosial komunitasnnya lumayan banyak terdiri dari beberapa kelompok tidak terhitung berapa banyak aku mendapat kenalan dari komunitas itu dan salah satunya adalah Gita. Saat itu tidak ada hal spesial diantara kami, Gita hanya kuanggap teman dan bahan ledekan saat kami semua berkumpul. ha...ha... sepertinya hanya kamu satu-satunya wanita yang tidak pernah aku bully, aku sangat tau seberapa menyeramkannya dirimu karena seorang pria mungkin harus mempertaruhkan nyawanya kalau ingin membullymu, meredakan kemarahanmu akan menjadi pekerjaan yang sangat merepotkan.

Sayangnya, setelah beberapa lama para angota mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan kami sudah semakin jarang berkumpul bersama, Sejak saat itu pula aku tidak pernah melihat Gita lagi...

***

Bulan-bulan berlalu hingga kalender di dinding kamar berganti tahun yang tersisa di ruang sempit itu hanya sebuah lemari disamping kasur di hadapan meja kerja dengan sebuah laptop tergeletak diatasnya. kamu tau dimana bagian menyedihkannya? penghuni kamar itu adalah penganguran yang baru saja kehilangan pekerjaan. Yang kulakukan saat itu hanya browsing sana-sini mencari lowongan pekerjaan dengan sisa uang gaji terakhir yang semakin menipis beruntunglah usaha keluarga yang sempat bangkrut mulai kembali dirintis oleh ayah dan adikku jon dan mulai mebuahkan hasil jadi aku tidak terlalu terbebani dengan kebutuhan sehari-hari di rumah.

Facebook saat itu masih menjadi media sosial yang sangat populer nyaris tanpa pesaing jadi setiap hari yang kulakukan hanya membuka facebook berharap ada kuis atau lomba yang bisa ku ikuti. Ya, saat itu aku hanya bertahan hidup dari menulis blog dan mengikuti berbagai lomba menulis di internet. Sejujurnya hidupku saat itu sangatlah memprihatinkan tapi bagiku itu masih lebih baik daripada harus merepotkan orang lain setidaknya aku tidak mau menjadi beban bagi siapapun. Dari sinilah aku kembali bertemu dengan Gita, dari mulai komen-komenan status sampai private chat dan saling betukar nomer telpon.

Gita ternyata tidak berubah masih seorang teman yang meyenangkan, Dia juga tidak pernah meremehkanku meskipun aku hanya seorang lelaki dengan masa depan yang suram. ketika semua teman wanitaku mulai mejaga jarak setelah tau aku hanya seorang penganguran yang tidak mungkin lagi bisa mentraktir mereka makan Gita masih saja setia menjadi bahan bullyanku dan tidak pernah sekalipun dia memperlakukanku seperti pecundang.

                                                        ***            
Hari-hari mejadi berbeda semejak Gita akrab denganku, saat ada waktu luang kami sering pergi menjelajah tempat-tempat unik bersama kesukaan kami pada wisata alam memberikan banyak pengalaman baru. Berbeda dari teman-teman wanitaku yang lain dia sama sekali tidak perhitungan masalah materi, sering  sekali dia mentraktirku makan saat tau isi kantongku berada dalam masa krisis. Begitu juga aku saat mendapat rejeki lebih dari hasil kerja serabutan Gita pasti jadi orang pertama yang aku traktrir.

Benar benar wanita yang langka, saat semua perempuan yang aku kenal berlomba-lomba memamerkan pesona agar diperlakukan seperti ratu dia sama sekali tidak menuntut untuk diperlakukan istimewa. Entah bagaimana caranya Tuhan menciptakan wanita sebaik ini, sama sekali tidak ada celah dimana aku bisa mengingat keburukannya. Wanita yang terlalu baik untuk bersahabat dengan sampah sepertiku.

Di suatu malam saat aku mengantarnya pulang kami berteduh di emperan sebuah toko sambil berlindung dari hujan deras yang tiba-tiba datang. Entah kenapa suasana malam itu terasa berbeda tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, kami sama-sama saling mematung sambil memandangi hujan. Tiba-tiba suara Gita memecah keheningan dan pandangan mata kami saling bertemu, sorot mata yang menanggung banyak harapan diwajahnya membuatku tidak bisa berkata-kata. “Hen, aku pengen kita lebih dari teman”,  ntah bagaimana kata-kata mutiara itu tiba-tiba keluar dari bibir merahnya. Kata-kata dari jiwa seorang hawa yang menunggu balas akan cintanya membuat orkestra hujan yang sejak tadi bernyanyi menjadi musik latar dan membuat suasana semakin canggung. Dicintai oleh wanita sebaik ini seharusnya membuatku senang, Tapi selama ini aku benar-benar menganggap Gita hanya sebagai teman.

Tapi pandangan itu… mata yang penuh harap membuat aku menjadi tidak bernyali untuk berkata tidak. Kujalani saja, mungkin Gita bisa menemaniku menghilangkan rasa bosan karena terlalu lama sendirian. Lagipula, dia bukan wanita yang akan merepotkanku dengan berbagai macam tuntutan untuk menjadi sempurna.

***
Kadang aku penasaran bagaimana Tuhan menciptakan hati manusia karena ada berbagai macam rasa yang bisa hidup didalamnya. Kali ini aku menjumpai pertukaran yang tidak adil disini, Tuhan  menitipkan rasa itu dihatinya tapi tidak dihatiku. Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha mencintai Gita semuanya hanya berakhir pada rasa iba.

Karena itulah aku selalu merasa ada yang hilang semenjak hubungan kami berubah menjadi semakin dalam. Aku mendapatkan seorang kekasih tapi disaat yang sama aku juga kehilangan sahabat terbaikku. Semenjak Gita menjadi pacarku, hari-hari penuh kegialaan itu perlahan-lahan hilang tidak ada lagi sesi ledek-meledek diantara kami yang tersisa hanya romatisme buta dari Gita. Sepertinya tanpa sengaja aku baru saja menumpahkan sianida pada rasa yang tak kunjung ada.

Setiap kali dia tersenyum padaku rasanya seperti sebilah pedang baru saja menusuk jantungku. Bagi mana mungkin aku bisa begitu tega mempermainkan mahluk semanis ini? Dilihat dari manapun akulah orang jahatnya. Cinta yang membunuh persahabatan kami membuat sesatu yang seharusnya indah menjadi jengah dan perlahan menuju titik lelah.

***
Saat itu ditempat ini…. Aku memberinya sebuah surat, kamu pasti bisa menebak apa isinya. Bahkan saat memilih pergi aku masih tidak bernyali untuk berbicara sebagai seorang lelaki…

“Untuk Gita, aku memilih pergi bukan meninggalkanmu tapi memerdekakan hatimu dari belenggu rindu yang palsu. Ini akam menyakitimu tapi jika kamu yakin padaku maka inilah pilihan terbaik untuk dijalani… “

Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat seorang wanita menangis demi diriku, aku merasa menjadi pria paling jahat. Aku tidak pernah berharap maaf dari Gita rasanya terlalu naïf jika aku masih meminta terlalu banyak setelah memperlakukannya seperti ini,

Hari itu… aku bukan hanya kehilangan kekasih tapi juga sahabat terbaik. Seseorang yang tetap mendampingiku tidak peduli seberapa meyedihkannya hidupku. Orang yang tetap datang disaat seluruh dunia meninggalkanku. Tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini tapi dia berhak untuk bahagia, biarlah ini jadi hal terakhir yang dilakukan sahabat yang buruk sepertiku. Sudah waktunya dia berhenti meyakini hati yang penuh ilusi.

Cinta  selalu memiliki alasan untuk menhianatimu tapi persahabatan akan membuka matamu dari kepalsuan…. Itulah yang diajarkan Gita padaku.

***

Cheusa… sudah jam 8 malam ternyata, pantas saja dari tadi smartphoneku tidak berhenti berbunyi pasti ulah si yoga dan putri di grup chat. Entahlah akhir-akhir ini dua bocah ini kelihatan akrab. Ya… sudah waktunya untuk mengusili mereka ha..ha..

Bogor 30 Agustus 2016
Hendar S Rao 

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar