Surat Cinta Buat Cheusa (Bag 2)
Pesan Dalam Hujan
Hujan lagi....,
Seperti biasa kali aku tetap menikmati setiap tetesnya dengan segelas teh hangat dan petikan gitar yang senar-senarnya sudah mulai berkarat. Suaranya sedikit sumbang tapi sudahlah toh aku masih bisa pura-pura menikmatinya karena bunyi hujan selalu membuatku mengingat banyak hal yang semakin terlupakan.
Ponsel yang kusimpan disamping laptop sepertinya kedatangan pesan yang berasal dari line, sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti telepon cerdas, tablet, dan komputer. ...ah kenapa pula aku harus membukannya! nama diana ada disana, seseorang yang namanya ingin sekali aku hapus tapi entah kenapa aku masih membiarkan kontak sialan itu ada dalam handphoneku.
Sebenarnya aku malas bercerita banyak soal wanita ini tapi suka atau tidak mahluk manis inilah yang menyeretku kembali percaya pada cinta. sesuatu yang semenjak kepergianmu hanya kuanggap sebagi lelucon konyol, obat bagi para pecundang untuk tidak berhenti berjuang. bagiku, cinta hanyalah segelas racun dimana saat kita meminumnya saat itulah hati menjadi diktator yang seenaknya membuat aturan-aturan sendiri dan tidak pernah mengikutsertakan logika didalamnya.
Ya sudah, kubiarkan saja dia tau kalau aku membaca pesannya paling tidak dia tidak perlu berharap banyak pada rasa yang tidak mungkin lagi saling menjaga. Bukan, ini bukan tentang aku merindukannya atau tidak. kadang bukan karena benci, melainkan karena rasa sayanglah yang membuat seseorang memilih pergi. seperti aku yang memilih berhenti mencarimu, berhenti memanjakan rindu yang selalu memaksa untuk menemukan tuannya.
***
Takdir... apa kamu masih percaya dengan itu? entahlah, tapi aku percaya bahwa tuhan selalu menitipkan berbagai kejutan pada masing-masing manusia seperti sebuah pesan yang tiba-tiba datang dari akun facebook bernama diana dua tahun yang lalu. Ya, semua kejutan itu hanya dimulai dengan kata "hai" yang akhirnya menanamkan benih di hati dan tumbuh begitu saja.
Tidak ada yang kuanggap istimewa pada awalnya bagiku itu hanya terlihat sebagai pesan perkenalan biasa. aku bahkan lupa bagaimana aku dan dia bisa berteman di facebook karena aku memang membatasi pertemanan di sosial media dan hanya berteman dengan orang-orang yang dianggap perlu saja. Tapi entah setan apa yang ada di kepalaku saat itu obrolan diantara kami menjadi semakin panjang dan melebar kemana-mana.
Dia wanita yang sopan dan sedikit pendiam, diana juga tidak memiliki banyak teman lelaki mungkin itu juga alasan kenapa dia mau berteman denganku yang menurut sebagian orang "aneh". Ya, kamu taukan aku lelaki yang cuek dan hanya melakukan segala kegiatan berdasarkan mood. Kamu bilang aku orang yang penuh kejutan padahal aku tidak pernah bermaksud mengejutkan siapapun seperti saat aku tiba-tiba muncul diahadapan diana. Dia terkejut karena aku bisa tahu tempat dimana dia bekerja. diana marah pada saat itu karena mengira aku sebagai seorang penguntit. Dia mendiamkan aku begitu lama sambil memasang wajah cemberut yang celakanya justru membuatnya semakin manis.
Ya sudah, supaya aku tidak terlihat bodoh saat itu aku mulai mengarang cerita bahwa aku ingin memberinya sebuah kejutan. kali ini aku beruntung karena saat itu ternyata adalah hari ulang tahunnya ha...ha... dan sebagai hadiah aku ingin mentraktirnya makan malam. Sejujurnya aku tidak tau apa yang dipikirkannya saat itu mungkin dia mengira aku seorang bajingan yang sedang menyusun siasat untuk melancarkan niat jahat. Tapi untunglah, sepertinya dia percaya dengan cerita karanganku dan setidaknya kali ini aku sedikit terlihat keren ha..ha..
Kamu tau, yang sebenarnya terjadi adalah saat itu bosku menyuruhku untuk mengantarkan barang kepada seseorang disekitar tempat itu. dan sialnya, aku ternyata lupa jalan pulang ha..ha.. yaaa, saat itu aku masih bekerja sebagai seorang marketing di sebuah perusahaan telkomunikasi. Sambil membeli minuman di sebuah warung pinggir jalan aku bertannya-tanya tentang arah pulang pada pemilik warung sampai pandanganku terpaku pada sebuah ruko yang rasanya seperti tidak asing. Ya, ruko itu adalah kantor dimana diana bekerja aku sudah sering melihat dia memposting foto tempat itu di akun facebooknya hingga tanpa sengaja aku melihat sesosok wanita keluar dari gedung itu dan sepertinya sedang bersiap-siap untuk pulang.
Wajah itu sangat tidak asing karena itu memang diana, wajahnya sama dengan yang sering aku lihat di akun facebooknya. dengan memasang wajah ganteng yang dipaksakan aku memberanikan diri menyebrang jalan dan menyapanya. Terlihat canggung tapi itulah pertemuan pertamaku dengan diana.
***
Kita tidak pernah tau bagaimana sebuah perasaan tumbuh karena sesuatu seperti rindu seringkali datang tanpa mengetuk pintu. entah keajaiban seperti apa yang dimiliki diana, dia bisa membawaku tenggelam begitu dalam pada sebuah rasa yang sudah lama aku lupakan. Ya, perasaan yang pernah kamu hancurkan dan hanya menyisakan puing-puing penyesalan didalamnya.
Butuh waktu cukup lama untuk meyakinkan dia soal perasaanku, berminggu-minggu sampai dia berkata "iya" dan sejak saat itu, setiap hari adalah kejutan. Tidak ada yang kulewati tanpa sesuatu yang berarti. hampir setiap minggu aku datang ke rumahnya terkadang sampai malam tertawa bersama dan melakukan hal-hal gila yang semenjak ketiadaanmu hanya bisa kulakukan di dalam imajinasi.
Tidak peduli sebodoh apapun hal yang kami lakukan pada saat itu. Bagiku, itu adalah waktu-waktu yang berharga dan aku ingin menyimpannya baik-baik didalam kepalaku. Berkali-kali dia bertanya kenapa aku suka sekali memperhatikan wajahnya dan berkali-kali itu pula pertannyaan itu berakhir tanpa jawaban. Aku hanya takut suatu saat tidak bisa memiliki senyuman indah itu lagi.
Cheusa... kamu tau kan segala hal di dunia ini selalu berawal dan berakhir dan kamu ingin tau bagaimana semua kebahagiaan itu lenyap? sederhana saja, sebuah hubungan yang terlalu sempurna selalu berakhir dengan kebosanan. Semua kesenangan itu teryata harus berhenti pada sebuah titik dimana kamu biasa menterjemahkannya dengan kata "jenuh". Entah kenapa diana tiba-tiba sering menghilang tanpa kabar berhari-hari bahkan pernah samapai dua minggu lamanya.
Sebagi seorang lelaki tentu saja insting detektifku tiba-tiba bangkit, aku membuka hampir semua laman sosial media miliknya mencari tau apa yang dia lakukan dan luput dari pandanganku. Sampai aku menemukan sebuah percakapan mesra antara dia dengan seorang pria di salah satu akun miliknya. Ya, akhirnya aku tau ternyata diana tidak berbeda dengan betina-betina lain yang pernah aku kenal. Benci, kecewa, marah dan rasa takut akan kehilangan bertubi-tubi menampar jiwaku seolah memohon untuk diledakkan.
Tapi aku tidak mau mengulang sejarah itu lagi, sebuah cerita suram di bulan desember bertahun-tahun yang lalu. Cukup, aku tidak akan lagi membiarkan emosi menguasai dan kembali menciptakan tragedi. Kali ini aku memilih diam, berpura-pura semuanya baik-baik saja. kamu tau, rasanya seperti menahan ledakan sebuah bom yang tertanam dalam hatiku, seperti berusaha bunuh diri tapi tidak ingin mati.
Suatu hari akhirnya diana menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Benar saja seperti yang kuduga, dia ingin hubungan kami berakhir. Dia bercerita banyak tentang perjodohan yang direncanakan orang tua dan saudara-saudaranya yang tidak mungkin dia tolak. Ayolah, apakah dia pikir aku akan percaya dengan lelucon konyol seperti itu? ditelingaku cerita itu terdengar tidak lebih baik daripada cerita murahan anak-anak sd di majalah dinding sekolah. Kepalang tanggung, aku medesaknya untuk berkata jujur sampai sebuah kalimat keluar dari bibirnya "udah ada yang bikin aku nyaman". Sederhana tapi menghancurkan, itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir mungil yang tidak pernah berhenti kukagumi.
"Tidak akan ada lagi
hati yang diam-diam saling mencari
Tidak akan ada lagi
kebisuan yang diam-diam saling merindukan"
Sejak saat itu aku memilih sendiri saja, bukan karena tidak mampu lagi mencintai tapi karena hati yang terlalu lelah untuk disakiti. aku bukannya ingin lari, aku hanya ingin bersembunyi sejenak dari sesak didalam benak. berhenti mencari karena aku yakin kehidupan memiliki caranya sendiri untuk saling menemukan.
***
kalau saja kamu ada disni kamu pasti sudah mengomel karena dari tadi handphoneku tidak berhenti berbunyi. Seperti biasa, itu adalah notifikasi dari grupchat yang berisi Adisti dan Chezzy. sepertinya Adisti sedang sibuk bercerita panjang tentang kesehariannya di Thailand. ha....h entah bagaimana caranya bocah ini bisa mengetik begitu cepat diatas layar sentuh dimana aku hanya bisa melakukannya setingkat orang primitif. sepertinya jari-jari ditangannya sudah dilengkapi fitur autotouch hingga bisa mengetik dengan sanggat cepat. lucu ya, meskipun ada banyak hal yang belum kumengerti dari mereka kedua manusia inilah yang akhirnya menambahkan sedikit warna pada hidupku yang membosankan.
Kemarin malam Adisti dan Chezzy mengirim pesan pribadi padaku, bertanya kenapa beberapa hari ini aku tidak muncul di grupchat. Sebenarnya tidak ada alasan dramatis didalamnya aku hanya sedang beradaptasi dengan suasana kerja ditempat baru. aku baru mendapat pekerjaan baru beberapa hari yang lalu setelah masa kontrak kerjaku terdahulu habis dan tidak diperpanjang. Memang bukan sesuatu yang istimewa tapi kepedulian kecil seperti ini bagiku sangatlah berarti. Ternyata masih ada yang menyadari ketidak hadiranku padahal yang kulakukan disana hanyalah meledek mereka berdua. Yah setidaknya aku tau, aku tidak pernah dilupakan.
Berteman dengan rasa sepi sekian lama rasanya seperti menyusun puzzle dengan sebuah kepingan yang hilang karena tidak peduli bagaimanapun cara kita merangkainya, hasilnya tidak akan pernah sempurna. tapi percaya atau tidak, orang-orang seperti inilah yang membuatku tetap waras. mereka memberiku alasan untuk tersenyum disaat aku seharusnya menangis.
Cheusa... meskipun tidak sempurna aku akhirnya tau bahwa pilihanmu untuk pergi ternyata bukan akhir, itu hanya sebuah langkah menuju kejutan lain yang disiapkan tuhan untukku.
Bogor 3 Agustus 2016
Hendar S Rao

0 komentar:
Posting Komentar