Pilihan Untuk Pergi
"Malam
adalah cerita", itu yang sering kamu katakan padaku dulu dan hanya
kuanggap sebagai kalimat pengantar tidur. entah bagaimana aku bisa tiba-tiba
mengingat kata-kata itu, mungkin karena malam ini aku cuma bengong sendirian
dipinggir jalan. ini malam minggu, tapi bagiku ini hanya seperti malam-malam
biasa kegiatanku hanya menjemput adikku pulang kerja. kamu masih ingat
"ben" iya itu adiikku yang dulu selalu menunggu kedatanganmu hmm...
ya, tepatnya bukan kedatanganmu sih tapi coklat yang selalu kau bawa untuknya. Sekarang
dia bukan lagi bocah cengeng seperti dulu ben sekarang sudah lulus sekolah dan
bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di kota bogor. Saat ada waktu luang aku
selalu menyempatkan diri menjemputnya lumayan sekedar menghemat ongkos lagi
pula tempat kerjaanya juga tidak begitu jauh dari rumah.
Tidak,
aku bukan sedang bercerita tentang kisah seorang kakak yang baik tidak
sedramatis itu. kamu tau, tempat aku biasa menunggu ben pulang bekerja adalah
tempat pertama kali kita bertemu. Di tempat yang sama sekali tidak romantis
inilah untuk pertama kalinya aku meliat tuhan menciptakan malaikat dan iblis di
dalam satu tubuh yang disebut wanita. Tiga bulan lamanya kamu menminta aku
menunggu hanya untuk menemuimu padahal kita tinggal di kota yang sama dan di
tempat sama itu pula untuk pertama kalinya aku melihat airmana mengalir deras
diwajah seorang wanita bernama Gita.
***
Entah
dari mana harus kumulai karena setiap kalimat yang kutulis kali ini hanya menjadi
rangkaian kata tanpa makna. Bukan karena Gita terlalu istimewa tapi hanya
dengan mengigatnya saja rasanya seperti menghujamkan ribuan tombak dijantungku
dadaku menjadi sangat sesak oleh rasa bersalah. Dia adalah saksi terakhir bahwa
di setiap kisah dalam tulisan ini aku bukannlah orang baiknya, Aku pernah
menjadi begitu egois hingga bisa menyakiti hati seorang wanita hanya untuk
menghilangkan rasa bosan.
Gita
memang tidak pernah berada di tempat yang istimewa dalam hidupku seperti kamu
tapi dialah satu-satunya wanita yang pernah mengajariku arti pentingnya
ketulusan. kenyataannya kita tidak pernah tau kemana takdir akan membawa kita,
kita tidak pernah tau apakah sebuah kejadian atau seseorang yang kita temui di
masa lalu akan mengubah hidup kita dimasa depan kita hanya bisa menebak karena
kita tidak pernah tau...
....Setelah
perpisahan kita aku benar-benar seperti si buta yang kehilangan tongkatnya,
kebingungan dan tidak punya tujuan. beruntunglah aku tidak hidup dijaman batu
hingga kemudahan komunikasi di era modern membuat aku bisa menemukan banyak hal
untuk dilakuan meskipun rasanya selalu hambar seperti power ranger tanpa warna,
membosankan.
Saat
itu aku pernah membuat komunitas online yang tergabung dari orang-orang yang
saling berkenalan via jejaring sosial komunitasnnya lumayan banyak terdiri dari
beberapa kelompok tidak terhitung berapa banyak aku mendapat kenalan dari
komunitas itu dan salah satunya adalah Gita. Saat itu tidak ada hal spesial
diantara kami, Gita hanya kuanggap teman dan bahan ledekan saat kami semua
berkumpul. ha...ha... sepertinya hanya kamu satu-satunya wanita yang tidak
pernah aku bully, aku sangat tau seberapa menyeramkannya dirimu karena seorang
pria mungkin harus mempertaruhkan nyawanya kalau ingin membullymu, meredakan
kemarahanmu akan menjadi pekerjaan yang sangat merepotkan.
Sayangnya,
setelah beberapa lama para angota mulai sibuk dengan urusan mereka
masing-masing dan kami sudah semakin jarang berkumpul bersama, Sejak saat itu
pula aku tidak pernah melihat Gita lagi...
***
Bulan-bulan
berlalu hingga kalender di dinding kamar berganti tahun yang tersisa di ruang
sempit itu hanya sebuah lemari disamping kasur di hadapan meja kerja dengan
sebuah laptop tergeletak diatasnya. kamu tau dimana bagian menyedihkannya?
penghuni kamar itu adalah penganguran yang baru saja kehilangan pekerjaan. Yang
kulakukan saat itu hanya browsing sana-sini mencari lowongan pekerjaan dengan
sisa uang gaji terakhir yang semakin menipis beruntunglah usaha keluarga yang
sempat bangkrut mulai kembali dirintis oleh ayah dan adikku jon dan mulai
mebuahkan hasil jadi aku tidak terlalu terbebani dengan kebutuhan sehari-hari
di rumah.
Facebook
saat itu masih menjadi media sosial yang sangat populer nyaris tanpa pesaing
jadi setiap hari yang kulakukan hanya membuka facebook berharap ada kuis atau
lomba yang bisa ku ikuti. Ya, saat itu aku hanya bertahan hidup dari menulis
blog dan mengikuti berbagai lomba menulis di internet. Sejujurnya hidupku saat
itu sangatlah memprihatinkan tapi bagiku itu masih lebih baik daripada harus
merepotkan orang lain setidaknya aku tidak mau menjadi beban bagi siapapun. Dari
sinilah aku kembali bertemu dengan Gita, dari mulai komen-komenan status sampai
private chat dan saling betukar nomer telpon.
Gita
ternyata tidak berubah masih seorang teman yang meyenangkan, Dia juga tidak
pernah meremehkanku meskipun aku hanya seorang lelaki dengan masa depan yang
suram. ketika semua teman wanitaku mulai mejaga jarak setelah tau aku hanya
seorang penganguran yang tidak mungkin lagi bisa mentraktir mereka makan Gita
masih saja setia menjadi bahan bullyanku dan tidak pernah sekalipun dia
memperlakukanku seperti pecundang.
***
Hari-hari mejadi
berbeda semejak Gita akrab denganku, saat ada waktu luang kami sering pergi
menjelajah tempat-tempat unik bersama kesukaan kami pada wisata alam memberikan
banyak pengalaman baru. Berbeda dari teman-teman wanitaku yang lain dia sama
sekali tidak perhitungan masalah materi, sering sekali dia mentraktirku makan saat tau isi
kantongku berada dalam masa krisis. Begitu juga aku saat mendapat rejeki lebih
dari hasil kerja serabutan Gita pasti jadi orang pertama yang aku traktrir.
Benar benar wanita yang
langka, saat semua perempuan yang aku kenal berlomba-lomba memamerkan pesona
agar diperlakukan seperti ratu dia sama sekali tidak menuntut untuk
diperlakukan istimewa. Entah bagaimana caranya Tuhan menciptakan wanita sebaik
ini, sama sekali tidak ada celah dimana aku bisa mengingat keburukannya. Wanita
yang terlalu baik untuk bersahabat dengan sampah sepertiku.
Di suatu malam saat aku
mengantarnya pulang kami berteduh di emperan sebuah toko sambil berlindung dari
hujan deras yang tiba-tiba datang. Entah kenapa suasana malam itu terasa
berbeda tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, kami sama-sama saling
mematung sambil memandangi hujan. Tiba-tiba suara Gita memecah keheningan dan pandangan
mata kami saling bertemu, sorot mata yang menanggung banyak harapan diwajahnya
membuatku tidak bisa berkata-kata. “Hen, aku pengen kita lebih dari teman”, ntah bagaimana kata-kata mutiara itu tiba-tiba
keluar dari bibir merahnya. Kata-kata dari jiwa seorang hawa yang menunggu
balas akan cintanya membuat orkestra hujan yang sejak tadi bernyanyi menjadi
musik latar dan membuat suasana semakin canggung. Dicintai oleh wanita sebaik
ini seharusnya membuatku senang, Tapi selama ini aku benar-benar menganggap Gita
hanya sebagai teman.
Tapi pandangan itu…
mata yang penuh harap membuat aku menjadi tidak bernyali untuk berkata tidak. Kujalani
saja, mungkin Gita bisa menemaniku menghilangkan rasa bosan karena terlalu lama
sendirian. Lagipula, dia bukan wanita yang akan merepotkanku dengan berbagai
macam tuntutan untuk menjadi sempurna.
***
Kadang aku penasaran
bagaimana Tuhan menciptakan hati manusia karena ada berbagai macam rasa yang
bisa hidup didalamnya. Kali ini aku menjumpai pertukaran yang tidak adil disini,
Tuhan menitipkan rasa itu dihatinya tapi
tidak dihatiku. Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha mencintai Gita
semuanya hanya berakhir pada rasa iba.
Karena itulah aku
selalu merasa ada yang hilang semenjak hubungan kami berubah menjadi semakin
dalam. Aku mendapatkan seorang kekasih tapi disaat yang sama aku juga
kehilangan sahabat terbaikku. Semenjak Gita menjadi pacarku, hari-hari penuh
kegialaan itu perlahan-lahan hilang tidak ada lagi sesi ledek-meledek diantara
kami yang tersisa hanya romatisme buta dari Gita. Sepertinya tanpa sengaja aku
baru saja menumpahkan sianida pada rasa yang tak kunjung ada.
Setiap kali dia tersenyum
padaku rasanya seperti sebilah pedang baru saja menusuk jantungku. Bagi mana
mungkin aku bisa begitu tega mempermainkan mahluk semanis ini? Dilihat dari
manapun akulah orang jahatnya. Cinta yang membunuh persahabatan kami membuat
sesatu yang seharusnya indah menjadi jengah dan perlahan menuju titik lelah.
***
Saat itu ditempat ini….
Aku memberinya sebuah surat, kamu pasti bisa menebak apa isinya. Bahkan saat
memilih pergi aku masih tidak bernyali untuk berbicara sebagai seorang lelaki…
“Untuk Gita, aku memilih pergi bukan
meninggalkanmu tapi memerdekakan hatimu dari belenggu rindu yang palsu. Ini
akam menyakitimu tapi jika kamu yakin padaku maka inilah pilihan terbaik untuk
dijalani… “
Saat itulah untuk
pertama kalinya aku melihat seorang wanita menangis demi diriku, aku merasa
menjadi pria paling jahat. Aku tidak pernah berharap maaf dari Gita rasanya
terlalu naïf jika aku masih meminta terlalu banyak setelah memperlakukannya
seperti ini,
Hari itu… aku bukan
hanya kehilangan kekasih tapi juga sahabat terbaik. Seseorang yang tetap
mendampingiku tidak peduli seberapa meyedihkannya hidupku. Orang yang tetap
datang disaat seluruh dunia meninggalkanku. Tidak seharusnya aku
memperlakukannya seperti ini tapi dia berhak untuk bahagia, biarlah ini jadi hal
terakhir yang dilakukan sahabat yang buruk sepertiku. Sudah waktunya dia berhenti
meyakini hati yang penuh ilusi.
Cinta selalu memiliki alasan untuk menhianatimu tapi
persahabatan akan membuka matamu dari kepalsuan…. Itulah yang diajarkan Gita padaku.
***
Cheusa… sudah jam 8 malam
ternyata, pantas saja dari tadi smartphoneku tidak berhenti berbunyi pasti ulah
si yoga dan putri di grup chat. Entahlah akhir-akhir ini dua bocah ini kelihatan
akrab. Ya… sudah waktunya untuk mengusili mereka ha..ha..
Bogor 30 Agustus
2016
Hendar S Rao








